IHSG - Masih Di Uji Lagi

Kekuatan IHSG Masih Di Uji Besok


Bursa saham Indonesia dibuka naik tipis 0,25% pada level 1.905,407 dan terus merambat naik hingga pada sesi siang bertengger di angka 2.007. Penguatan IHSG di atas level 2000 ini terjadi menyusul imbas positif naiknya bursa regional. Namun, sentimen negatif ternyata masih membayang sehingga bursa melorot lagi dan terpuruk di 1.975.

IHSG di awal perdagangan menguat atas ekspektasi pemulihan ekonomi global dan domestik. Investor melakukan aksi beli selektif terhadap saham–saham unggulan yang tertekan pada perdagangan pekan lalu.

Namun, aksi profit taking pelaku pasar dan kekhawatiran turunnya harga komoditas menekan pergerakan bursa. “Turunnya harga minyak mentah berimbas pada harga komoditas lain seperti logam dan energi serta memperlemah saham berbasis sumber daya alam,” ujar analis BNI Securities, Norico Gaman.

Pertambangan tercatat sebagai sebagai sektor yang menyumbang pelemahan bursa terbesar, dengan anjlok 3,4%, disusul perdagangan merosot 2,5%, properti 2%, konsumer 1,18%, infrastruktur dan perkebunan masing-masing 0,9% dan 0,7%.

Harga kontrak minyak mentah Nymex Juli turun 50 sen (0,7%) dan ditutup di level US$ 69,13 per barel. Sedangkan kontrak berikutnya, pada Agustus, juga melemah 56 sen (0,8%) ke level US$ 69,46 per barel. Penurunan harga minyak dipicu kekhawatiran naiknya pasokan gasoline AS seiring permintaan yang lemah.

Saham berbasis tambang yang mengalami pelemahan harga besar antara lain PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 1.100 ke Rp 20.000, PT Bukit Asam (PTBA) melemah Rp 800 menjadi Rp 10.900, PT Indika Energy (INDY) terkoreksi Rp 175 menjadi 2.325, PT Timah (TINS) merosot Rp 125 menjadi Rp 2.000, dan PT Medco (MEDC) terkoreksi Rp 125 ke Rp 3.000.

Hanya empat sektor yang masih menghijau, yaitu aneka industri, industri dasar, manufaktur dan finansial. Saham finansial menguat atas ekspektasi turunnya suku bunga perbankan yang diprediksi meningkatkan kinerjanya. “Suku bunga turun akan menekan Non Performing Loan (NPL) dan menaikkan Net Interst Margin (NIM),” pungkasnya.

Namun, ia melihat koreksi yang terjadi ini hanya bersifat jangka pendek karena Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi positif dibandingkan lainnya. Dengan PDB yang tumbuh 4%, pasar berekspektasi kinerja semester dua akan meningkat dan Indonesia menjadi kawasan investasi yang menarik.

“Fundamental ekonomi Indonesia masih bagus, sehingga memicu aksi beli kembali pelaku pasar dan asing. Apalagi ada trend penurunan suku bunga dalam negeri yang mengindikasikan perbaikan sektor riil.”

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia mencatat volume transaksi 9.063 juta lembar saham, senilai Rp 3,325 triliun dengan frekuensi 93.929 kali. Sebanyak 43 saham naik, 169 saham turun dan 34 saham stagnan.

Emiten-emiten lain yang mengalami penguatan terbesar antara lain PT Astra International (ASII) melonjak Rp 850 ke Rp 22.900, PT Indocement (INTP) naik Rp 400 ke Rp 7.200, PT Petrosea (PTRO) terangkat Rp 200 ke Rp 9.950, PT Semen Gresik (SMGR) naik Rp 150 ke Rp 4.650, PT Bank Danamon (BDMN) menguat Rp 150 ke Rp 4.425, dan PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 125 ke Rp 3.650.

Sedangkan beberapa emiten yang terpantau melemah antara lain PT Gudang Garam (GGRM) jatuh Rp 400 menjadi Rp 11.900, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) merosot Rp 200 ke Rp 5.800, dan PT Astra Argo Lestari (AALI) turun Rp 100 menjadi Rp 16.600.

IHSG bergerak anomali dengan bursa regional yang sore ini terpantau menguat. Indeks Shanghai Composite naik 0,6% pada 2.896,30. Indeks Kospi naik 1,2% ke level 1.399,71, dengan volume transaksi yang tidak terlalu besar.

Indeks Hang Seng naik 138,62 poin (0,77%) ke 18.059,55, indeks Nikkei-225 naik 40,01 poin (0,41%) ke level 9.826,27 dan indeks Straits Times terangkat 37,49 atau 1,68% di posisi 2.274,69. (inilah.com)


"As long as you're going to think anyway, think big." Donald Trump

0 comments:

Post a Comment